Thursday, 13 November 2008

Impian yang Menjadi Mimpi

Menjadi orang yang sukses hidup di jakarta, merupakan suatu hal yang diimpi-impikan oleh Aziz (25), mojang bandung yang mencoba merantau ke jakarta untuk mewujudkan impiannya dan dapat membahagiakan kedua orang tuanya.
Aziz datang ke jakarta 2 tahun yang lalu dengan menaiki kereta api. Setibanya di jakarta, aziz berusaha mencari kontarakan untuk tempat tinggal sementara. Uang yang dibawanya pun tidak begitu banyak sehingga ia memutuskan mencari pekerjaan guna menambah uangnya agar dapat membayar sewa rumah dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya telah Aziz coba untuk memperoleh pekerjaan, namun tidak ada satu pun yang dapat. seminggu kemudian, salah seorang tetanggganya dimana Aziz tinggal mengajaknya bekerja berjualan rokok di perempatan lampu merah di daerah lebak bulus. Awalnya Aziz menolak tawaran tersebut dengan karena ia tidak mau menjadi penjual rokok, namun lama kelamaan akhirnya Aziz menerima tawaran kerjaan tersebut. Lama tidak memperoleh pekerjaan dan uang yang dipunyanya tidak begitu banyak menjadi alasan Aziz untuk menerima ajakan salah seorang tetangganya.
Pekerjaan ini menurutnya cukup untuk membayar sewa rumah yang ditempatinya sebesar Rp 300.000/bulan dan membiayai hidupnya sehari-hari. Pendapatan Aziz berjualan rokok untuk sebulannya saja sebesar Rp 500.000/bulan, sehingga dapat dikatakan, ia mampu untuk memenuhi hidupnya sehari-hari. Mengenai impiannya untuk menjadi orang sukses di Jakarta ia hanya dapat berkata,"Biarlah impian itu menjadi mimpi yang indah di masa yang lalu, ternyata hidup di jakarta tidak semudah yang dipikirkannya".
Kehidupan Aziz sebagai penjual rokok mengalami berbagai pengalaman yang mengesankan maupun menyakitkan. Salah satu pengalaman yang diceritakannya ialah ketika ia berjualan rokok untuk pertama kalinya, Aziz memulai berjualannya di perempatan lampu merah Lebak bulus, rupanya saat pertama kali ia berjualan di sana sangat sepi pembeli, kemudian ia mencoba untuk menjajakan barang dagangannya di dalam bus kota Tunggal daya dengan jurusan Lebak Bulus-Bekasi. ketika ia sedang menjajakan barang dagangannya kepada para calon pembeli, ia lupa untuk turun dari bis secepatnya karena saat itu ia belum begitu mengenal wilayah-wilayah di kota jakarta. Alhasil, ketika turun dari bis ia tidak tahu dimana ia berada saat itu."terpaksa saya jalan kaki dari daerah yang saya tidak tahu itu menuju tempat saya pertama kali berjualan yaitu perempatan lebak bulus. saya jalan sangat jauh sekali dan caphe bener", tandasnya.
Setelah mengobrol cukup lama hampir 1,5 jam, Aziz kembali menjalankan profesinya berjaualan rokok di perempatan jalan lebak bulus, dari kejauhan terlihat Aziz tidak hanya saja menawarkan barang dagangan di pinggir jalan, nmaun ia juga menawarkan barang dagangannya di dalam bus-bus kota.
suasana di perempatan lebak bulus saat itu sangat ramai, begitu bayak kendaraan yang lalu lalang, para pedagang asongan, maupun para pengamen anak-anak yang melantunkan lagu-lagu dari grup band terkenal salah satunya ialah D'massive. mereka semua tampaknya sudah terbiasa mendengar suara-suara klakson mobil yang berbunyi begitu keras. Kehidupan telah membentuk mereka terbiasa dengan apa yang dihadapinya setiap hari.

Nama : Eko wahyu Sentosa
N.R.P : 205.612.027
Tugas Penulisan Feature & Editorial

No comments: