Menjadi orang yang sukses hidup di jakarta, merupakan suatu hal yang diimpi-impikan oleh Aziz (25), mojang bandung yang mencoba merantau ke jakarta untuk mewujudkan impiannya dan dapat membahagiakan kedua orang tuanya.
Aziz datang ke jakarta 2 tahun yang lalu dengan menaiki kereta api. Setibanya di jakarta, aziz berusaha mencari kontarakan untuk tempat tinggal sementara. Uang yang dibawanya pun tidak begitu banyak sehingga ia memutuskan mencari pekerjaan guna menambah uangnya agar dapat membayar sewa rumah dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya telah Aziz coba untuk memperoleh pekerjaan, namun tidak ada satu pun yang dapat. seminggu kemudian, salah seorang tetanggganya dimana Aziz tinggal mengajaknya bekerja berjualan rokok di perempatan lampu merah di daerah lebak bulus. Awalnya Aziz menolak tawaran tersebut dengan karena ia tidak mau menjadi penjual rokok, namun lama kelamaan akhirnya Aziz menerima tawaran kerjaan tersebut. Lama tidak memperoleh pekerjaan dan uang yang dipunyanya tidak begitu banyak menjadi alasan Aziz untuk menerima ajakan salah seorang tetangganya.
Pekerjaan ini menurutnya cukup untuk membayar sewa rumah yang ditempatinya sebesar Rp 300.000/bulan dan membiayai hidupnya sehari-hari. Pendapatan Aziz berjualan rokok untuk sebulannya saja sebesar Rp 500.000/bulan, sehingga dapat dikatakan, ia mampu untuk memenuhi hidupnya sehari-hari. Mengenai impiannya untuk menjadi orang sukses di Jakarta ia hanya dapat berkata,"Biarlah impian itu menjadi mimpi yang indah di masa yang lalu, ternyata hidup di jakarta tidak semudah yang dipikirkannya".
Kehidupan Aziz sebagai penjual rokok mengalami berbagai pengalaman yang mengesankan maupun menyakitkan. Salah satu pengalaman yang diceritakannya ialah ketika ia berjualan rokok untuk pertama kalinya, Aziz memulai berjualannya di perempatan lampu merah Lebak bulus, rupanya saat pertama kali ia berjualan di sana sangat sepi pembeli, kemudian ia mencoba untuk menjajakan barang dagangannya di dalam bus kota Tunggal daya dengan jurusan Lebak Bulus-Bekasi. ketika ia sedang menjajakan barang dagangannya kepada para calon pembeli, ia lupa untuk turun dari bis secepatnya karena saat itu ia belum begitu mengenal wilayah-wilayah di kota jakarta. Alhasil, ketika turun dari bis ia tidak tahu dimana ia berada saat itu."terpaksa saya jalan kaki dari daerah yang saya tidak tahu itu menuju tempat saya pertama kali berjualan yaitu perempatan lebak bulus. saya jalan sangat jauh sekali dan caphe bener", tandasnya.
Setelah mengobrol cukup lama hampir 1,5 jam, Aziz kembali menjalankan profesinya berjaualan rokok di perempatan jalan lebak bulus, dari kejauhan terlihat Aziz tidak hanya saja menawarkan barang dagangan di pinggir jalan, nmaun ia juga menawarkan barang dagangannya di dalam bus-bus kota.
suasana di perempatan lebak bulus saat itu sangat ramai, begitu bayak kendaraan yang lalu lalang, para pedagang asongan, maupun para pengamen anak-anak yang melantunkan lagu-lagu dari grup band terkenal salah satunya ialah D'massive. mereka semua tampaknya sudah terbiasa mendengar suara-suara klakson mobil yang berbunyi begitu keras. Kehidupan telah membentuk mereka terbiasa dengan apa yang dihadapinya setiap hari.
Nama : Eko wahyu Sentosa
N.R.P : 205.612.027
Tugas Penulisan Feature & Editorial
Thursday, 13 November 2008
KADANG MAAP, KADANG NGGAK ADA YANG NGASIH
Walaupun pernah tertangkap petugas trantip di Pasar Rebo, lantas itu tak membuat Iwan (9) pengamen kecil berhenti mencari uang. Kalau lagi mujur bisa dapat Rp 30-40 ribu sehari, bisa juga kalau lebaran sampai Rp 100 ribu dari bernyanyi di bus-bus atau perempatan lampu merah Lebak Bulus.
Awan mendung menyelimuti langit pada Sabtu, (8/11). Jarum jam menunjukkan pukul 11, namun lalu lintas di perempatan Lebak Bulus dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang. Hal tersebut terlihat dari banyaknya kendaraan yang mengarah baik ke Pondok Indah, Fatmawati, terminal Lebak Bulus, dan arah Pondok Pinang.
Pemandangan tak kalah menariknya ketika di perempatan titu terlihat banyak pedagang asongan dan anak jalanan yang sedang mencari lembaran uang rupiah. Penjual mangga, tahu, minuman dingin, rokok, dan sebagainya sibuk menawarkan barang dagangannya kepada pengendara sepeda motor, mobil pribadi, dan angkot yang sesaat terhenti ketika lampu merah menyala. Begitu pun dengan anak jalanan yang berda di sekitar lampu merah tersebut, mereka sibuk menyumbangkan suaranya dari satu pintu mobil ke pintu mobil lainnya.
Terlihat Iwan salah satu pengamen kecil yang saat itu mengenakan kaos putih oblong, celana jeans biru dongker panjang, dan sandal jepit orange menaiki mobil Koantas Bima 509 jurusan Kampung Rambutan-Lebak Bulus untuk mengamen. Tak berapa lama ia kembali ditempat perkumpulan bersama teman-teman lainnya tidak jauh beda umurnya. Bermodalkan amplop dan botol bekas air mineral yang diisi dengan segenggam beras itulah ia menghasilakan uang receh.
Beras yang dimasukkan ke dalam botol tresbut menghasilkan suara yang mengiringi lantunan lagu ketika bernyanyi dalam bus. Lagu yang didendangkan kepda penumpang bus biasanya lagu-lagu dewasa yang sedang tren sekarang ini. “Ku akui ku sangat, sangat menginginkanmu,” katanya sambil menyanyikan sepenggal lagu band Indonesia yaitu D’masiv yang berjudul diantara kalian.
Dari sepenggal lagu itulah ia sering mendapatkan lima ratus sampai seribu rupiah dari beberapa orang penumpang bus. “Keseringan orang-orang ngasih lima ratus kalo ngggak seribu,” katanya. Ketika ia mengamen saat lampu merah menyala di perempatan Lebak Bulus tersebut tidak semua pengendara mobil pribadi memberikan uang. “Kadang maap, kadang nggak ada yang ngasih,” tandasnya.
Dalam sehari ia bisa memperoleh uang sebesar Rp 30-40 ribu, bahkan kalau lagi ramai seperti hari lebaran ia bisa memperoleh uang sampai Rp 100 ribu. Untuk mendapatkan uang sebesar itu, biasanya ia bekerja dari pukul 8 pagi-6 sore.
Pekerjaan orang tuanya sebagai pedagang kopi keliling di pasar Induk Kramat Jati yang pengahsilannya tidak seberapa itu membuatnya harus ikut membantu mencari uang untuk membiayai keperluan sekolahnya. “Uang yang saya dapet kan buat bayar buku sekolah, kan buku-bukunya banyak terus mahal,” ujar anak yang kalau sudah besar mempunyai cita-cita sebagai ABRI itu.
Ia hanya mengamen ketika libur sekolah, yaitu hari Sabtu dan Minggu, sebab hari lainnya ia harus menjalankan tugasnya sebagai pelajar kelas II di Madrasah Ibtidaiyah An-Nur Kramat Jati Jakarta Timur. “Saya kalo ngamen cuma Sabtu sama Minggu aja, soalnya sekolahnya libur, kalo hari lain abis pulang sekolah saya main sama temen-temen saya di rumah,” ujar anak keempat dari lima bersaudara tersebut.
Pengalaman Iwan yang pernah tertangkap satu kali di Pasar Rebo oleh Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) dan dibawa ke Cipayung selama tiga hari, tak mengurungkan langkahnya menjadi pengamen kecil. “Baru berangkat ada trantip semobil ama temen saya,kan saya kan suruh naik dianya nggak mau, ayo naik, ayo naik dianya nggak mau tangan saya ditarik jadi ketangkep berdua dibawa ke Cipayung. Dilepasinnya paling tiga hari, di sana saya dikurung dikasih nasi kering sama tempe basi, ikan asin,” kata anak yang tinggal di dekat pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Bukan itu saja, pengalamannya menjadi pengamen kecil selama tiga tahun ini. Perlakuan yang tidak menyenangkan di terminal Blok M ikut menghiasi hari-harinya selama mengamen. “Pernah waktu itu saya dipalak di Blok M, saya nggak kasih aja, dia marah terus nonjok perut saya deh. Saya pura-pura nangis aja, jadi yang malakin saya nggak berani, abis itu saya kabur,” katanya.
Suasana di perempatan lampu merah Lebak Bulus semakin ramai, lalu lintas makin padat. Selain itu, ada beberapa orang lelaki yang sedang duduk sambil merokok terlihat santai sambil berbincang-bincang sesama temannya. Ternyata beberapa orang tersebut adalah kondektur bus yang sedang beristirahat.
Lain halnya dengan beberapa orang polisi berseragam yang sibuk mengatur lalu lintas disekitar perempatan tersebut. Suara pluit pun terus terdengar kala polisi bertugas. Keberadaan polisi ditempat itu tidak membuat pengamen kecil yang berada di sana merasa terganggu atau ketakutan. Mereka tetap menjalankan tugasnya masing-masing, polisi mengatur lalu lintas dan pengamen pun sibuk mencari uang lewat nyanyian yang diperdengarkan saat lampu merah menyala menggunakan alat seadanya.
Heni ibu rumah tangga yang beralamat di Pondok Pinang, Jakarta Selatan merasa prihatin ketika melihat anak-anak kecil mengamen. “Saya nggak tega banget lihatnya, kok orang tuanya tega banget ya anaknya kecil gitu udah disuruh kerja,” ujar perempuan 45 tahun ini. Ia berharap para orang tua tidak mengizinkan anaknya yang masih di bawah umur untuk bekerja. “Kalo mereka mau bekerja, harusnya orang tua mereka memberikan pengertian dan jangan ngizinin, mereka kan masih tanggungan orang tuanya,” katannya.
NAMA : FARHA IMANIYATI
NRP : 205.612.037
TUGAS : PENULISAN FEATURE dan EDITORIAL
Awan mendung menyelimuti langit pada Sabtu, (8/11). Jarum jam menunjukkan pukul 11, namun lalu lintas di perempatan Lebak Bulus dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang. Hal tersebut terlihat dari banyaknya kendaraan yang mengarah baik ke Pondok Indah, Fatmawati, terminal Lebak Bulus, dan arah Pondok Pinang.
Pemandangan tak kalah menariknya ketika di perempatan titu terlihat banyak pedagang asongan dan anak jalanan yang sedang mencari lembaran uang rupiah. Penjual mangga, tahu, minuman dingin, rokok, dan sebagainya sibuk menawarkan barang dagangannya kepada pengendara sepeda motor, mobil pribadi, dan angkot yang sesaat terhenti ketika lampu merah menyala. Begitu pun dengan anak jalanan yang berda di sekitar lampu merah tersebut, mereka sibuk menyumbangkan suaranya dari satu pintu mobil ke pintu mobil lainnya.
Terlihat Iwan salah satu pengamen kecil yang saat itu mengenakan kaos putih oblong, celana jeans biru dongker panjang, dan sandal jepit orange menaiki mobil Koantas Bima 509 jurusan Kampung Rambutan-Lebak Bulus untuk mengamen. Tak berapa lama ia kembali ditempat perkumpulan bersama teman-teman lainnya tidak jauh beda umurnya. Bermodalkan amplop dan botol bekas air mineral yang diisi dengan segenggam beras itulah ia menghasilakan uang receh.
Beras yang dimasukkan ke dalam botol tresbut menghasilkan suara yang mengiringi lantunan lagu ketika bernyanyi dalam bus. Lagu yang didendangkan kepda penumpang bus biasanya lagu-lagu dewasa yang sedang tren sekarang ini. “Ku akui ku sangat, sangat menginginkanmu,” katanya sambil menyanyikan sepenggal lagu band Indonesia yaitu D’masiv yang berjudul diantara kalian.
Dari sepenggal lagu itulah ia sering mendapatkan lima ratus sampai seribu rupiah dari beberapa orang penumpang bus. “Keseringan orang-orang ngasih lima ratus kalo ngggak seribu,” katanya. Ketika ia mengamen saat lampu merah menyala di perempatan Lebak Bulus tersebut tidak semua pengendara mobil pribadi memberikan uang. “Kadang maap, kadang nggak ada yang ngasih,” tandasnya.
Dalam sehari ia bisa memperoleh uang sebesar Rp 30-40 ribu, bahkan kalau lagi ramai seperti hari lebaran ia bisa memperoleh uang sampai Rp 100 ribu. Untuk mendapatkan uang sebesar itu, biasanya ia bekerja dari pukul 8 pagi-6 sore.
Pekerjaan orang tuanya sebagai pedagang kopi keliling di pasar Induk Kramat Jati yang pengahsilannya tidak seberapa itu membuatnya harus ikut membantu mencari uang untuk membiayai keperluan sekolahnya. “Uang yang saya dapet kan buat bayar buku sekolah, kan buku-bukunya banyak terus mahal,” ujar anak yang kalau sudah besar mempunyai cita-cita sebagai ABRI itu.
Ia hanya mengamen ketika libur sekolah, yaitu hari Sabtu dan Minggu, sebab hari lainnya ia harus menjalankan tugasnya sebagai pelajar kelas II di Madrasah Ibtidaiyah An-Nur Kramat Jati Jakarta Timur. “Saya kalo ngamen cuma Sabtu sama Minggu aja, soalnya sekolahnya libur, kalo hari lain abis pulang sekolah saya main sama temen-temen saya di rumah,” ujar anak keempat dari lima bersaudara tersebut.
Pengalaman Iwan yang pernah tertangkap satu kali di Pasar Rebo oleh Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) dan dibawa ke Cipayung selama tiga hari, tak mengurungkan langkahnya menjadi pengamen kecil. “Baru berangkat ada trantip semobil ama temen saya,kan saya kan suruh naik dianya nggak mau, ayo naik, ayo naik dianya nggak mau tangan saya ditarik jadi ketangkep berdua dibawa ke Cipayung. Dilepasinnya paling tiga hari, di sana saya dikurung dikasih nasi kering sama tempe basi, ikan asin,” kata anak yang tinggal di dekat pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Bukan itu saja, pengalamannya menjadi pengamen kecil selama tiga tahun ini. Perlakuan yang tidak menyenangkan di terminal Blok M ikut menghiasi hari-harinya selama mengamen. “Pernah waktu itu saya dipalak di Blok M, saya nggak kasih aja, dia marah terus nonjok perut saya deh. Saya pura-pura nangis aja, jadi yang malakin saya nggak berani, abis itu saya kabur,” katanya.
Suasana di perempatan lampu merah Lebak Bulus semakin ramai, lalu lintas makin padat. Selain itu, ada beberapa orang lelaki yang sedang duduk sambil merokok terlihat santai sambil berbincang-bincang sesama temannya. Ternyata beberapa orang tersebut adalah kondektur bus yang sedang beristirahat.
Lain halnya dengan beberapa orang polisi berseragam yang sibuk mengatur lalu lintas disekitar perempatan tersebut. Suara pluit pun terus terdengar kala polisi bertugas. Keberadaan polisi ditempat itu tidak membuat pengamen kecil yang berada di sana merasa terganggu atau ketakutan. Mereka tetap menjalankan tugasnya masing-masing, polisi mengatur lalu lintas dan pengamen pun sibuk mencari uang lewat nyanyian yang diperdengarkan saat lampu merah menyala menggunakan alat seadanya.
Heni ibu rumah tangga yang beralamat di Pondok Pinang, Jakarta Selatan merasa prihatin ketika melihat anak-anak kecil mengamen. “Saya nggak tega banget lihatnya, kok orang tuanya tega banget ya anaknya kecil gitu udah disuruh kerja,” ujar perempuan 45 tahun ini. Ia berharap para orang tua tidak mengizinkan anaknya yang masih di bawah umur untuk bekerja. “Kalo mereka mau bekerja, harusnya orang tua mereka memberikan pengertian dan jangan ngizinin, mereka kan masih tanggungan orang tuanya,” katannya.
NAMA : FARHA IMANIYATI
NRP : 205.612.037
TUGAS : PENULISAN FEATURE dan EDITORIAL
Subscribe to:
Posts (Atom)
